Home / Health / Benarkah Wifi dapat Memicu Kanker? (part 1)

Benarkah Wifi dapat Memicu Kanker? (part 1)

20160311091531.3048090146525ilustrasi-telepon-setumpuk-telepon-genggam-resized780x390

Penggunaan ponsel adalah sesuatu yang umum sekarang ini. Teknologi nirkabel ini bergantung pada luas dan kekuatan jaringan antena tetap (fixed antenna), atau BTS, untuk menyampaikan informasi dengan frekuensi sinyal radio (RF).

Lebih dari 1,4 juta BTS ada di seluruh dunia dan jumlah ini terus meningkat secara signifikan seiring perkembangan teknologi.

Jaringan nirkabel lain yang memungkinkan akses dan layanan internet berkecepatan tinggi, seperti jaringan nirkabel area lokal (WLAN), juga semakin umum di rumah, kantor, dan bandara dan temlat-tempat lainnya.

Karena jumlah BTS dan jaringan nirkabel (termasuk wifi) meningkat, demikian juga dengan paparan frekuensi radio.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai efek negatifnya terhadap kesehatan masyarakat, seperti yang dirilis oleh ABC Catalyst baru-baru ini. ABC Catalyst dengan forum ilmuwannya mencurigai wifi bisa menyebabkan kanker otak.

Di dalam situsnya, WHO menyebutkan, kekhawatiran terhadap efek negatif frekuensi radio jaringan nirkabel, berkaitan dengan kemungkinan efek kesehatan jangka panjang.

Namun, sampai saat ini, satu-satunya efek kesehatan yang ditimbulkam frekuensi radio adalah peningkatan suhu tubuh (> 1 ° C), jika terpapar oleh intensitas medan gelombang yang sangat tinggi, yang biasa ditemukan di fasilitas-fasilitas industri tertentu.

Tingkat paparan frekuensi radio dari BTS dan jaringan nirkabel sangat rendah sehingga tidak dapat meningkatkan suhu tubuh dan tidak memengaruhi kesehatan manusia secara signifikan.

Frekuensi radio yang terkuat ada pada sumbernya dan kekuatan itu akan berkurang dengan cepat sesuai dengan jarak. Dengan kata lain, semakin jauh posisi Anda dari sumber frekuensi, semakin kecil paparan yang Anda terima.

WHO sendiri tidak menganjurkan Anda berada dan mengakses jaringan di dekat stasiun pemancar karena timgkat paparan frekuensi radionya mungkin melebihi batas yang ditetapkan untuk dunia internasional.

Survei menunjukkan bahwa eksposur frekuensi radio dari BTS dan teknologi nirkabel di area publik (termasuk sekolah dan rumah sakit), biasanya ribuan kali di bawah standar internasional.

Bahkan, karena frekuensi yang lebih rendah, pada tingkat paparan frekuensi radio yang sama, tubuh menyerap sinyal dari radio FM dan televisi, lima kali lebih banyak daripada dari BTS.

Hal ini karena frekuensi yang digunakan di radio FM (sekitar 100 MHz) dan di siaran TV (sekitar 300 hingga 400 MHz) lebih rendah daripada frekuensi yang digunakan oleh telepon selular (900 MHz dan 1800 MHz).

Radio dan televisi telah ada jauh sebelum adanya jaringan nirkabel, tanpa adanya laporan mengenai konsekuensi kesehatan yang dianggap merugikan.

Wifi dan Kanker
Artikel-artikel mengenai kemungkinan wifi dapat memicu kanker, telah mencuri perhatian publik. Perlu dicatat bahwa secara geografis, kasus kemunculan kanker tidak merata di antara populasi masyarakat.

Mengingat ada banyak sekali BTS tersebar di seluruh dunia, kasus kanker yang muncul di lingkungan yang dekat dengan BTS, mungkin hanya bersifat kebetulan. Tidak semua orang yang sering berada di dekat BTS menderita kanker.

Selain itu laporan mengenai kasus kanker dalam kelompok masyarakat ini, tidak mencakup jenis kanker tertentu dan tanpa adanya karakteristik umum, karenanya tidak mungkin memiliki penyebab umum.

Bukti ilmiah tentang distribusi kanker pada populasi masyarakat dapat diperoleh melalui studi epidemiologi yang harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sangat hati-hati.

Selama 15 tahun terakhir, studi yang meneliti hubungan potensial antara pemancar frekuensi radio dan kanker telah diterbitkan. Namun, studi-studi ini belum memberikan bukti bahwa paparan frekuensi radio nirkabel dari pemancar dapat meningkatkan risiko kanker, masih menurut WHO.

Beberapa orang melaporkan bahwa mereka mengalami gejala non-spesifik pada paparan medan frekuensi radio yang dipancarkan dari BTS dan perangkat medan elektromagnetik (EMF) lainnya.

Di dalam fact sheet berjudul “Electromagnetic Hypersensitivity” yang diterbitkan oleh WHO, disebutkan bahwa EMF belum terbukti menyebabkan gejala seperti yang disebutkan di atas.

Meskipun demikian, penting untuk kita mau membuka pikiran dan mengenali penderitaan yang dialami oleh orang-orang tersebut.

Laporan terbaru International Agency for Research on Cancer (IARC) yang berada di bawah WHO mengatakan bahwa radiasi frekuensi radio digolongkan sebagai golongan 2B, yaitu sebagai bahan yang mungkin bersifat karsinogen (memicu kanker).

Lebih lengkapnya, IARC menyebutkan bahwa kelompok 2B adalah agen (atau campuran) yang mungkin bersifat karsinogenik bagi manusia, sifat karsinogeniknya memerlukan lingkungan atau kondisi yang memungkinkan munculnya sifat karsinogenik tersebut.

National Geographic dalam artikel yang berjudul “Apakah Wifi Sebabkan Kanker?” menyebutkan, paparan Wifi tidak cukup energik untuk menjadi berbahaya.

Sejumlah kecil penelitu medis, sepetri yang muncul dalam fitur ABC Catalyst, mungkin mewaspadai lautan radiasi yang diproduksi oleh ponsel dan jaringan Wi-Fi, tetapi mereka mengakui bahwa secara harfiah tidak ada bukti yang menunjukan bahwa paparan tersebut berbahaya.

(ans)

original source

Check Also

20160617033705.4144880824311shutterstock-92825878780x390

Banyak Makan Kedelai Bikin Pria Jadi Feminin?

Kedelai dikenal sebagai makanan sahabat tubuh. Tapi, kedelai disebut dapat membuat pria jadi feminim. Benarkah ...